Jumat, 20 April 2012

SELF DIRECTED CHANGE

Kali ini saya mendapat tugas untuk menjelaskan tentang apa itu "SELF DIRECTED CHANGE"
Meskipun kalian merasa bebas untuk berubah dan tumbuh serta membuat sebuah keputusan untuk melakukan sesuatu, maka tidak ada jaminannya bahwa kalian akan melakukan itu. Oleh sebab itu kita juga harus mengetahui bagaimana untuk melakukan hal tersebut dengan itu saya akan membahas nya.

Menurut teori kompetensi, langkah yang merupakan elemen mendasar untuk mengajarkan atau menigkatkan kompetensi orang dewasa (Competence At Work, 1993). Biasanya disebut dengan istilah "Self Directed Change Theory".
Teori ini mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengubah diri ke arah yang lebih baik dari kenyataan hidup yang kurang mendukung, katakanlah semacam stres.
Menurut teori ini juga, orang dewasa akan berubah kalau berada dalam kondisi di bawah ini:
1. merasa tidak puas dengan kondisi aktual yang dihadapi (actual)
2. punya gambaran yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin diraih/dikehendaki (ideal)
3. punya konsep yang jelas tentang apa yang akan dilakukan untuk bergerak dari kondisi aktual menuju kondisi ideal (action step)

Self directed Change juga memiliki beberapa tahapan, seperti:

1. meningkatkan kontrol diri
Hurlock mengatakan "kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu-individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya" Kontrol sosial itu sendiri adalah individu sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis dan perilaku seseorang. Ketika seseorang ingin merubah kebiasaanya terhadap perbedaan yang sangat besar, seperti orang yang selalu bermalas-malasan saat kuliah,
2. menetapkan tujuan
 Dalam hidup kita harus mencoba hal baru dan mengubah hal yang jelek menjadi lebih baik lagi. Tetapkan target kalian untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Dengan lebih rajin masuk kelas setiap mata kuliah, dan mendengarkan ajaran dosen.
3. Pencatatan perilaku
Untuk mengubah suatu kebiasaan yang jelek, catatlah hal apa saja yang bisa kita ubah dari kebiasaan tersebut, dari situ kita bisa menilai mana yang akan membantu dan memotivasi dan mana hal yang akan menggoda kita serta harus dihindari setiap kita berada dalam kelas.
4. menyaring anteseden perilaku
Tuliskan kebiasaan yang ingin kita perbaiki, dari situ kita akan melihat kerugiannya, apakah kesadaran konsekuensi lebih kuat dari keinginan melakukan kebiasaan tersebut?
5. menyusun konsekuensi yang efektif
 Setelah kita sudah memulai mengontrol beberapa kondisi yang memicu perilaku atau kebiasaan kita. Meningkatkan pengendalian diri, maka terdiri dari mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain menerima perilaku yang diinginkan sebagi imbalan kita telah menyenangkan hati orang lain termasuk orangtua.
6. menerapkan pencana intervensi
 Hitunglah seberapa berhasilkah kita mencapai target-target tersebut. Misalnya setiap ujian (UTS, UAS) kita membandingkan nilainya setiap semester.
7. Evaluasi
 Lihat lah seberapa ada kemajuan nya kita dalam melakukan perubahan tersebut, usahakan setiap target tercapai, jika tidak alangkah lebih baiknya kita mengulangnya agar target tujuan kita tercapai.

SUMBER:

Gibbons Maurice. 2002. The Self-Directed Learning Handbook

Goleman, Daniel. 2004. Primal Leadership Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta: PT Gramedia

Jumat, 06 April 2012

CANDID ALLWAYS

Hellllooowww...helllowwww tugas kali ini saya disuruh oleh dosen saya untuk membuat tulisaan bebas,, dengeriiinnn yukkk guys cerita saya hehehe :D
Sejak saya kuliah, saya memiliki 4 sahabat terbaik,,,,yukk mari saya kenalkan teman-teman saya, yang pertama ada Yohana “sirempong”, yang kedua ada Helen “si jenong”, yang ketiga ada Okan “si idung” dan yang terakhir ada Magda “si semok”.

Aku dan sahabat-sahabatku selalu berkata ;
“TIDAK ABDOL KALO PULANG MASIH SORE”

Ke empat sahabatku begitu asiiikkk dan seruuu, apalagi kalau soal yang namanya jalan-jalan pastii getol,haha.. aku selalu nongkrong dengan sahabat-sahabatku sehabis pulang kuliah entah dimana tempatnya yg penting nongkrong seharian sampai maghrib hehehe, apalagi ketika seharian tidak ada dosen, aku dan sahabat-sahabatku pasti selalu rencanain jalan-jalan ke suatu tempat untuk dikunjungi itu hari juga..saya terinspirasi untuk mengambil candidan dengan wajah-wajah yang unik.. 
Pada suatu hari aku dan sahabat2ku nongkrong di suatu tempat, saya mengambil candidan secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka hihihih, nih hasil candidan saya
ini dia nih salah korban-korbannya,

 YOHANA

 Ini adalah biang dari segala biang. Yohana tuh yaaa, orang yang pertama kali candid kita rame-rame, gara-gara dia kita jadi korban termasuk saya.

 OKAAAANN

Diantara semua nya, okan yang paling banyak punya foto candid'an, pokoknya tuh yaa ga ada yang nama nya candid ini anak, kocak abis mukanya tuh haha

MAGDA

kerjaannya molor mulu, pelor lah (nempel molor). Isi candid'an tentang dia tuh yang tidur-tidur semua.
Apalagi klo dikampus, kerjanya tidur aja.

HELEN


Hasil foto ini membuat saya tertawa ngakak sendirii, dengan wajah-wajah yang unikk hahaha
aku mempunyai koleksi foto2 candid'an nih selama kuliah dari semester 1 sampai semester 4, gak akan habisnya saya mengambil candid'an selama saya kuliah, 
Saya pun terkadang menjadi korban mereka (dicandid), tidak impas klo tidak saya balas hehe 
 bakal saya jadikan album untuk dijadikan kenangan wkwkwkwkwkwkwk,, yukkk capcusss kita lihat koleksinya..
Tapi, kalian baca doa dulu yaaa sebelum melihat, takutnya kalian ketawa ga berhenti-berhenti :)














Demikian tulisan dari saya ini, semoga membuat kalian semua terhibur :)
Terima kasih

Selasa, 03 April 2012

INTELINGENSI DAN KOGNISI

1.   Pengertian Inteligensi
         Dalam membahas fungsi otak terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan psikometri dan pemrosesan informasi. Pendekatan psikometri melahirkan istilah Inteligensi dan IQ (Intelligent Quotient) dan pendekatan pemrosesan informasi melahirkan istilah Kognisi (Cognition). Pendekatan psikometri berdasarkan aspek strukturalnya, sedang pendekatan kognisi berdasarkan aspek prosesnya. Unit analisis dalam pendekatan psikometri adalah faktornya, unit analisis dalam pendekatan kognisi adalah komponen-komponen pemrosesan informasi. Pendekatan psikometri disebut juga teori psikometri, karena basisnya terletak pada studi mengenai perbedaan-perbedaan individu atau diferensiasi dari kemampuan-kemampuan individual yang tersembunyi. Keberadaan kemampuan yang tersembunyi tersebut hanya dapat diidentifikasi melalui teknik matematis yang disebut analisis faktor. Penerapan teori ini dalam tes-tes inteligensi dimulai dengan sebuah matriks interkorelasi atau analisis kovarian. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sumber-sumber “laten” yaitu variasi yang tersembunyi dalam skor-skor tes yang dicapai. Pada gilirannya variasi tersembunyi ini kemudian diteorikan agar dapat memunculkan variasi-variasi yang dapat diamati dalam skor tes. Sumber-sumber laten yang dimiliki individu yang satu berbeda dari yang dimiliki individu lain, dan disebut faktor-faktor. Jadi perbedaan-perbedaan individu yang satu dengan yang lain yang muncul melalui performansi pada waktu tes-tes inteligensi dapat diubah kembali menjadi faktor-faktor. Masing-masing faktor tersebut mencerminkan kemampuan individu masing-masing.

Pandangan yang lebih representatif yang menggambarkan perbedaan-perbedaan individual adalah pandangan Thurstone (1938 dalam Stenberg, 1985: 5-6). Ia berpendapat bahwa inteligensi terdiri faktor yang jamak (multiple factors), mencakup tujuh kemampuan mental utama (primary mental abilities), yaitu:
a)      Pemahaman verbal (verbal comprehension). Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes kosa kata, termasuk sinonim dan lawan kata, dan tes-tes kemampuan menyimak bacaan.
b)      Kecepatan verbal (verbal fluency). Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes yang menuntut kecepatan dan ketepatan menghasilkan kata-kata, misalnya dalam waktu yang singkat mampu menghasilkan sebanyak mungkin kata yang dimulai dengan huruf d.
c)      Bilangan (number). Kemampuan ini biasanya diukur melalui pemecahan masalah-masalah aritmatika. Dalam tes ini sangat ditekankan tidak hanya masalah-masalah perhitungan dan pemikiran, tetapi juga penguasaan atas pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
d)     Visualisasi spasial (spatial visualization). Kemampuan ini biasanya diukur dengan tes-tes yang menuntut manipulasi mental atas simbol-simbol atau bangun-bangun geometris.
e)      Ingatan (memory). Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes mengingat kembali kata-kata atau kalimat yang dihafal dari gambar-gambar yang disertai keterangan gambar (kata-kata).
f)       Pemikiran (reasoning). Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes analogi-analogi (misalnya: Pengacara, Klien, Dokter,…. dan lain-lain), atau rangkaian huruf atau angka untuk diselesaikan (2, 4, 7, 11, …, …., …., ….).
g)      Kecepatan persepsi (perceptual speed). Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes yang menuntut pengenalan simbol-simbol secara cepat, misalnya kecepatan menyilang atau memberi tanda pada huruf f yang terdapat dalam deretan huruf-huruf (Stenberg, 1985: 5-6).


Howard Gardner (1983, 1993) mengajukan teori inteligensi yang bersifat jamak (multiple intelligence) yang membahas kemampuan otak manusia dan sensitivitasnya terhadap beragam budaya manusia. Gardner mengelompokkan inteligensi ke dalam tujuh kelompok:
(1) inteligensi linguistik (linguistic intelligence), yaitu kemampuan menggunakan bahasa dalam memahami bacaan (the ability to use language in a literary sense),
(2) inteligensi logika matematika (logical mathematical intelligence), yaitu kemampuan memahami dan menggunakan logika, matematika, dan ilmu pengetahuan (logical, mathematical and scientific ability),
(3) inteligensi spasial (spatial intelligence), yaitu kemampuan membentuk suatu model mental dari masalah spasial meliputi kemampuan menggerakkan dan mengoperasionalkannya sesuai dengan model tersebut (the ability to form a mental model of spatial world including the ability to manuver and operate it according to the model), (4) inteligensi musik (music intelligence), yaitu kemampuan menggunakan bahasa musik (the ability to use the languages of music),
(5) inteligensi kinestik-tubuh (bodily-kinesthetic intelligence), yaitu kemampuan memecahkan atau melihat masalah dengan cara menggunakan bagian-bagian badan atau seluruh badan (the ability to solves problems on to fashion them using parts of the body or the whole body),
(6) inteligensi interpersonal (interpersonal intelligence), yaitu kemampuan memahami orang lain dan motivasi-motivasi mereka, dan kemampuan mengetahui bagaimana bekerja sendiri atau bekerjasama dengan orang lain (the ability to understand other people and their motivations, and to know how to work alone or cooperatively with others),
(7) inteligensi intrapersonal (intrapersonal intelligence), yaitu kemampuan yang berkaitan dengan cara melihat ke dalam diri dan kapasitas untuk membentuk model yang akurat dan jujur mengenai diri sendiri yang dapat digunakan untuk menjalani hidup secara efektif (a correlative ability turned inward and a capacity to form an accurate and truthful model of self that can be used to operate effectively in life) (Khatena, 1992: 77-78).


2.   Pengertian Kognisi (Pemrosesan Informasi)
         Sebagaimana telah dijelaskan didepan bahwa dalam pembahasan tentang inteligensi terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan psikometri dan kognisi atau pemrosesan informasi. Demikian pula pembahasan proses mental terdapat beberapa pendekatan diantaranya pendekatan perilaku yang dikemukakan kaum behaviorisme, dan pendekatan kognisi atau pemrosesan informasi.

a. Pendekatan Kognisi

      Menurut Darlene V. Howard (1983) pandangan dari pendekatan kognisi dapat dikemukakan sebagai berikut:
      Pertama, pendekatan kognisi lebih menekankan pada cara mengetahui (knowing) dan bukan cara memberikan respon (responding). Pendekatan ini memilik kecenderungan untuk menemukan cara ilmiah dalam proses mental seorang individu dalam upaya memperoleh penguasaan (acquisition) dan pengaplikasian (application) pengetahuan. Ini berarti penekanan pendekatan kognitif bukan terletak pada hubungan stimulus-respon tetapi pada apa yang terjadi dalam proses mental tersebut. Atau dengan kata lain lebih banyak mempergunakan pikiran (mind) dan bukan dengan tindakan/perbuatan (behavior). Descartes menyatakan: Cogito Ergo sum (“Saya berpikir, karena itu saya ada”), dan bukan “Saya berbuat/bertindak, maka saya ada”.
Selanjutnya menurut Howard (1983) selain bahwa kognisi memiliki tiga ciri sebagai telah diuraikan di atas, teori kognisi, yang dapat juga disebut sebagai teori pemrosesan informasi, memiliki tiga asumsi sebagai berikut:
      Pertama, asumsi yang menyatakan bahwa antara stimulus dan respon terdapat rangkaian tahapan pemrosesan (a series of stages of processing) yang tiap tahapnya memerlukan jumlah waktu yang pasti.
      Kedua, asumsi yang menyatakan bahwa jika stimulus diproses melalui tahapan tersebut, maka bentuk dan isi (form and content) stimulus diasumsikan telah melalui sejumlah tahapan perubahan atau transformasi.
      Ketiga, asumsi yang menyatakan bahwa setiap tahapan dari sistem pemrosesan memiliki kapasitas terbatas, dalam arti adanya batasan dalam jumlah pemrosesan yang dilakukan secara berkesinambungan. Menurut pendekatan pemrosesan informasi ini, penentuan rangkaian tahapan yang membentuk satu kognisi dan penentuan sifat dari perubahan atau transformasi yang terjadi pada tahap tersebut, sangat penting untuk dapat memahami sifat kognisi manusia.

b.   Teori Pemrosesan Informasi

            Pemrosesan informasi merupakan suatu sistem yang terdiri tiga subsistem yaitu: Register Sensorik (Sensory Registers), Memori yang bekerja (Working Memory), Memori Jangka Panjang (Long – Term Memory) (Howard, 1983).

Dalam pemrosesan informasi, dijelaskan oleh Howard (1983) dan Atkinson & Shiffrin (dalam Berk, 1989, dalam Djiwatampu, 1993) bahwa pemrosesan informasi terdiri 3 subsistem yaitu register sensorik (sensory registers), memori yang bekerja (working memory) atau memori jangka pendek (short-term memory) dan memori jangka panjang (long-term memory). Fungsi register sensorik adalah menyimpan informasi walaupun dengan durasi waktu yang sangat singkat. Fungsi memori yang bekerja adalah menyimpan informasi dalam waktu yang lebih lama; terutama bila dilakukan latihan (rehearsal), maka informasi tidak mudah dilupakan. Penyimpanan informasi tidak dalam bentuk aslinya, tetapi dengan pengkodean (coding). Memori jangka panjang berfungsi menyimpan informasi secara permanen (tetap), dan fungsi paling pentingnya adalah melakukan semantik (semantic) atau pemberian makna terhadap suatu memori. Di samping itu juga memori jangka panjang berfungsi melakukan pengkodean (coding) dan berfungsi sebagai prosedur (procedures) atau proses kontrol. Fungsi sebagai prosedur ini dapat disamakan dengan komputer. Komputer tidak hanya berfungsi menyimpan data tetapi juga sebagai program memanipulasi data sehingga memori jangka panjang mampu memecahkan masalah dalam berbagai bidang. Atau dengan kata lain melakukan proses kontrol (control processes) yang dapat dianalogikan dengan program komputer yang mengontrol alur informasi sehingga informasi disimpan dalam memori jangka panjang, dan dapat digunakan bila diperlukan. Memori jangka panjang juga merupakan strategi memecahkan masalah, mengingat kembali (recalling), memahami dan menghasilkan bahasa. Dalam pemrosesan informasi ini ada fungsi yang lain lagi yang disebut pengenalan pola (pattern recognation) yang intinya berfungsi melakukan identifikasi susunan stimulus sensorik yang kompleks.


3.   Pengertian Metakognisi (Metakomponen)
      Menurut Baker dan Brown (1984 dalam Hamilton & Ghatala, 1994: 132), ada dua macam tipe metakognisi, yaitu:
1)      Pengetahuan tentang kognisi (knowledge about cognition)
2)      Pengaturan kognisi (regulation of cognition)
         Pengetahuan tentang kognisi meliputi pengetahuan seseorang tentang sumber daya (resources) kognisinya sendiri, dan kesesuaian antara karakter pribadi seseorang pembelajar dengan situasi belajar. Baker dan Brown berpendapat bahwa pengetahuan tentang kognisi bersifat stabil sepanjang waktu. Pengetahuan tentang kognisi merupakan suatu bentuk pengetahuan deklaratif. Baker dan Brown juga berpendapat bahwa pengetahuan kognisi seseorang berkembang terlambat dibandingkan usianya, dan menjadi lebih sempurna pada usia yang lebih tua (Baker & Brown, 1984: 354 dalam Hamilton & Ghatala, 1994: 132).
         Sedang pengaturan kognisi merupakan mekanisme pengaturan diri yang digunakan oleh siswa yang aktif selama memecahkan masalah. Pengaturan kognisi meliputi aktivitas mengecek hasil dari setiap usaha memecahkan masalah, merencanakan aktivitas berikutnya, memonitor efektivitas dari setiap usaha dengan melakukan pengetesan, melakukan perbaikan dan evaluasi dari strategi belajar siswa (Baker & Brown, 1984: 354 dalam Hamilton & Ghatala, 1994: 132). Pengaturan kognisi bersifat tidak stabil, karena siswa mungkin menggunakannya dalam beberapa kesempatan tetapi tidak dalam kesempatan lain. Pengaturan kognisi merupakan bentuk pengetahuan prosedural. Walaupun pengaturan kognisi lebih sering digunakan oleh anak yang lebih tua atau orang dewasa, tetapi anak muda dapat mengatur aktivitasnya sendiri pada masalah yang sederhana.


Pandangan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa  
metakognisi merupakan pengetahuan dan kesadaran seseorang tentang kognisinya sendiri serta kemampuan mengatur proses kognisinya. Pengetahuan metakognisi meliputi pengetahuan deklaratif, prosedural dan kondisional. Pengaturan proses kognisi mempunyai tiga macam fungsi esensial yaitu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi proses kognisi agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA:

Prabowo, Hendro.1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma

KEPRIBADIAN DAN PENGUKURANNYA

Pengertian Kepribadian
a.   Kepribadian dalam bahasa Inggris disebut personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “persona” yang berarti topeng. Istilah ini lalu diadopsi oleh orang-orang Roma dan mendapatkan konotasi baru yaitu “sebagaimana seseorang nampak di hadapan orang lain”. Konotasi ini seakan-akan menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah diri orang tersebut sebenarnya. Tetapi sekarang konotasi ini sudah banyak berubah. Para psikolog dan filsuf mulai sepakat bahwa manifestasi kepribadian dapat dilihat dari:
1).  kenyataan yang bersifat biologis.
2).  kenyataan psikologis.
3).  kenyataan sosial.
Ketiga kenyataan tersebut menggejala menjadi satu kesatuan yang disebut kepribadian.
            Pandangan seperti itu sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Gordon W. Allport yang menyatakan: 
Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menetukan caranya yang khas (unik)     dalam penyesuaian dengan lingkungan”

Pembentukan Kepribadian
Menurut Atkinson dkk (1993) ketika bayi lahir, ia membawa potensialitas tertentu. Karakteristik fisik, seperti warna mata, warna rambut, bentuk tubuh, bentuk hidung pada dasarnya ditentukan pada saat konsepsi (pertemuan sel telur denga sperma). Ada bukti-bukti yang menyakinkan bahwa reaksi emosi bersifat bawaan.
Penelitian bayi yang baru lahir (Thomas dan Chess dalam Atkinson dkk, 1993) menemukan bahwa perbedaan karakteristik seperti: tingkat keaktifan, rentang perhatian, kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, suasana hati pada umumnya dapat diamati segera setelah kelahiran. Orang tua memberikan respon yang berbeda terhadap bayi yang mempunyai karakteristik yang berbeda. Proses interaksi timbal balik orang tua dengan bayi memperkuat karakteristik kepribadian yang dibawa sejak lahir.
Contoh: bayi yang berhenti menangis apabila didekap atau ditimang, akan lebih senang digendong dibandingkan dengan bayi yang memalingkan kepalanya dan tetap menangis apabila didekap atau ditimang oleh orang tuanya. Akibatnya bayi pertama akan lebih sering digendong daripada bayi kedua. Ini berarti predisposisi awal lebih diperkuat oleh respon orang tua. Predisposisi biologis yang dibawa sejak lahir dibentuk melalui pengalaman yang diperoleh dalam proses perkembangan.


Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukkan kepribadian
1.   Faktor Biologis
Dari kenyatan bahwa perbedaan suasana hati dan tingkat aktivitas dapat diamati segera setelah kelahiran, ini berarti terdapat adanya faktor genetik. Penelitian tentang pengaruh faktor genetik terhadap kepribadian ini difokuskan pada penelitian terhadap anak kembar. Loehlin dan Nichols (dalam Atkinson, dkk, 1993), meneliti 139 anak kembar yang mempunyai jenis kelamin sama (umur rata-rata 55 bulan/5 tahun kurang) dinilai oleh ibu mereka berdasarkan beberapa karakteristik tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan kembar identik (memiliki semua gen yang sama) jauh lebih serupa dibandingkan kembar fraternal (memiliki separuh gen yang sama) misalnya dalam hal reaktivitas emosional, tingkat aktivitas dan kemampuan sosial. Jika tes kpribadian diberikan kepada orang kembar dewasa biasanya kembar identik memberikan jawaban yang lebih mirip daripada kembar fraternal.


2.   Faktor Pengalaman
Para ahli psikologi membedakan 2(dua) macam pengalaman yang mempengaruhi kepribadian manusia, yaitu:
a.   Pengalaman Umum (Common Experience)
Semua keluarga dalam suatu budaya tertentu memiliki keyakinan, kebiasaan, dan nilai-nilai. Selama perkembangannya anak belajar untuk berprilaku sesuai dengan keyakinan, kebiasaan dan nilai-nilai dalam budaya tersebut.
Setiap masyarakat selalu memiliki nilai-nilai, prinsip-prinsip moral, cara-cara hidup yang dihayati oleh semua anggota masyarakat. Anak akan dididik berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Karena itu kita menemukan adanya ciri-ciri budaya yang melekat pada kepribadian. Orang yang didik dalam budaya timur yang lebih memprioritaskan nilai keharmonisan akan sedikit mengorbankan kejujuran. (saya tidak boleh berbicara blak-blakan kalau kita akan menyakiti hati anda dan merusak keharmonisan hubungan kita). Sebaliknya orang yang dididik dan dibesarkan dalam budaya yang mengutamakan kejujuran akan sedikit mengorbankan keharmonisan.( saya akan mengatakan apa adanya. Walaupun itu akan membuat anda sakit hati dan mengganggu keharmonisan hubungan kita.)


b.   Pengalaman Unik (Unique Experience)
Di luar warisan biologis yang unik dan pengaruh nilai-nilai budaya tertentu, individu dibentuk oleh pengalaman khusus. Misalnya penyakit yang disertai pemulihan dalam waktu lama dapat menimbulkan kegemaran untuk dirawat. Penantian kesembuhan tersebut dapat mempengaruhi kepribadian. Kematian orang tua, kecelakaan traumatis merupakan pengalaman pribadi (bersifat unik) akan mempengaruhi kepribadian.


Teori-teori Kepribadian
Teori-teori Kepribadian terdiri dari:
·         Pendekatan Tipologi dan Trait
·         Pendekatan Psikodinamika
·         Teori Social-Learning
·         Pendekatan Fenomenologis.


1.   Pendekatan Tipologi dan Trait
Pendekatan Tipologis pertama kali diajukan oleh Hipocrates (460-377 Sebelum Masehi). Ia mendasarkan tipologinya pada cairan-cairan tubuh yang mempengaruhi temperamen seseorang. Ia membagi kepribadian menjadi 4(empat) tipe menurut nama cairan yang dominan mempengaruhinya, yaitu:
a.   Melankolik, cairan yang dominan mempengaruhi adalah empedu hitam. Individu yang melankolik mempunyai sifat murung, depresif.
b.   Sanguinis, cairan yang dominan mempengaruhi adalah darah. Individu yang sanguinis mempunyai sifat gembira, optimistik.
c.   Kholerik, cairan yang dominan mempengaruhi adalah empedu kuning. Individu kholeris mempunyai sifat mudah marah.
d.   Phlegmatik, cairan yang dominan mempengaruhi adalah lendir. Individu phlegmatis mempunyai sifat tenang, lamban, tidak mudah dirangsang.

2.   Pendekatan Psikodinamika
Teori kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), bapak Psikoanalis yang sangat terkenal. Apapun kelemahannya sebagai teori ilmiah, penjelasan tentang kepribadian menurut psikoanalisis tetap merupakan teori kepribadian yang paling komprehensif dan berpengaruh.
Freud memulai karir ilmiahnya sebagai seorang ahli neurologi yang mengobati pasien yang mengalami berbagai gangguan “saraf” dengan prosedur kedokteran konvensional. Karena seringkali gagal, ia mencoba teknik lain dan akhirnya menemukan metoda asosiasi bebas. Dengan mendengarkan secara cermat asosiasi bebas secara verbal tersebut, Freud mendeteksi tema konsisten yang merupakan manifestasi keinginan dan rasa takut bawah sadar.

3.   Teori Social-Learning
Teori Kepribadian yang mendasarkan pada Social-Learning menekankan pengaruh dari lingkungan atau keadaan situasional terhadap perilaku. Tokoh yang mengembangkan teori ini adalah Rotter, Dollard, Miller, dan Bandura. Para ahli tersebut berpendapat bahwa perilaku merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara variabel-variabel pribadi dengan lingkungan. Lingkungan membentuk pola-pola perilaku melalui proses belajar-mengajar. Sedangkan variabel-variabel pribadi mempengaruhi pola-pola dalam lingkungan. Individu dan situasi saling mempengaruhi.
4.   Pendekatan Fenomenologis
Atkinson dkk (1987) menyatakan bahwa teori kepribadian yang membahas objek studinya secara fenomenologis terdiri dari beberapa teori yang berbeda, tetapi mempunyai dasar yang sama yaitu pengalaman subjektif yaitu pandangan pribadi individu terhadap dunianya. Mereka juga disebut aliran humanistik karena teori-teorinya menekankan pada kualitas-kualitas yang membedakan manusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan perkembangannya sendiri (Self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities”, karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalaman batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang. Tokoh-tokoh utama pendekatan ini adalah C. R. Rogers dan A. H. Maslow.


Pengukuran Kepribadian
Dalam kehidupan sehari-hari kita sebenarnya sering mengukur kepribadian orang lain. Dalam hal ini biasanya kita menilai berdasarkan stereotipe dari ciri-ciri kelompok, misalnya orang kota itu individualis, orang Jawa halus, orang Barat disiplin dan lain sebagainya. Kita juga cenderung menilai hanya berdasarkan salah satu ciri tertentu yang kita sukai atau tidak kita sukai. Penilaian dengan cara ini sangat menyesatkan dan disebut hallo effect.

Penilaian kepribadian dibidang psikologi tidak bermaksud untuk memberikan label nilai-nilai moral (value labels), tetapi untuk mendeskripsikan perilaku sebagaimana adanya. Terdapat 3(tiga) metoda pengukuran kepribadian, yaitu:

1.   Metoda Observasi
Seorang observer yang sudah terlatih dapat melakukan observasi terhadap perilaku yang terjadi sehari-hari atau alamiah, yang terjadi dalam situasi eksperimen, maupun dalam konteks khusus untuk suatu observasi. Informasi yang diperoleh melalui metoda ini dapat dicatat pada suatu tabel, seperti skala rating (Rating Scale) atau tabel yang lain. Alat bantu yang lain seperti foto, kamera, video dapat digunakan.

2.   Metoda Inventori
Metode ini mengandalkan pada hasil observasi subjek terhadap dirinya sendiri. Inventori kepribadian merupkan pertanyaan-pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi atau dipilih oleh subjek berdasarkan ciri-ciri yang dianggap ada dalam dirinya sendiri. 

3.   Teknik Proyektif
Cara lain yang banyak digunakan untuk mengukur kepribadian adalah dengan teknik proyektif. Asumsi dasarnya ialah bahwa untuk memperoleh gambaran yang bulat tentang seseorang diperlukan kebebasan untuk mengekspresikan diri. Tes proyektif yang digunakan dalam metode ini biasanya berupa suatu rangsang (berbentuk gambar) yang sifatnya sangat ambigu, tidak jelas.
Bila dihadapkan dengan situasi semacam ini, individu akan mencoba menerapkan persepsinya yang sudah dipengaruhi oleh berbagai pengalamannya di masa lampau. Ekspresinya di dalam mengungkapkan apa yang dilihat bisa cukup bebas karena gambar itu bisa ditafsirkan sesuka hati individu. Tes Rorschach (Tes Ro) mempunyai rangsang dengan taraf ambiguitas yang cukup tinggi. Rangsang-rangsang dalam tes Ro adalah berupa bercak-bercak tinta. Tes Ro ini cukup populer di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA:
 
Prabowo, Hendro.1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma